TopCareer.id – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan di situasi kemarau tengah jadi ancaman bagi masyarakat.
ISPA sendiri kerap terjadi baik karena musim kemarau, hingga karena bencana karhutla. Paparan kabut asap dan partikel debu yang mudah beterbangan ketika tanah dan rumput mengering dapat menyebabkan gangguan pernapasan.
“Adanya peningkatan ISPA di periode musim kemarau itu karena pada saat kemarau tentu saja akan banyak partikel debu,” kata Ika Trisnawati, Dokter Spesialis Paru dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (4/9/2026), Ika menjelaskan, saat kemarau partikel debu yang berada di tanah maupun udara lebih mudah terbawa angin dan masuk ke saluran pernapasan.
Baca Juga: Fenomena Matahari Merah Saat Karhutla, Ini Penjelasan Pakar
Ika mengatakan, seseorang yang mengalami penyakit paru kronis jadi salah satu kelompok yang rentan mengalami gangguan akibat pencemaran udara. Beberapa yang termasuk di sini adalah penderita asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) akibat rokok, tuberkulosis paru, dan kanker paru.
Selain itu, masyarakat dengan penyakit kronis lain seperti diabetes, penyakit jantung, serta gagal ginjal juga masuk kelompok yang rentan ISPA.
Di sisi lain Ika mengungkapkan lansia juga punya risiko lebih tinggi karena terjadi penurunan fungsi organ, termasuk saluran pernapasan seiring bertambahnya usia.
Pada anak-anak, saluran pernapasan mereka yang masih berkembang dan berdiameter lebih kecil dibandingkan orang dewasa, juga membuatnya lebih mudah mengalami penyumbatan saat terjadi peradangan atau penumpukan dahak,
“Kalau terkena infeksi virus seperti influenza ataupun masuk partikel debu, kalau terjadi peradangan, tersumbat oleh dahak, lebih mudah sesak dibanding yang saluran napasnya diameternya lebih besar, yaitu pada usia dewasa,” kata Ika.
Baca Juga: Kemenkes Ingatkan 4 Kelompok Ini Paling Rentan Terdampak Asap Karhutla
Bukan hanya individu-individu tertentu, seseorang yang tinggal di pemukiman sangat padat juga berisiko terkena ISPA, karena kurangnya sirkulasi udara.
Ketika terdapat penghuni yang mengalami infeksi, penularan melalui percikan pernapasan saat batuk atau bersin menjadi lebih mudah terjadi. “Kalau di pemukiman padat area sirkulasi udaranya itu akan menjadi lebih mudah untuk saling menularkan,” kata Ika.
Wilayah lain dengan risiko tinggi yaitu di pemukiman dengan kondisi sanitasi dan kesehatan lingkungan yang kurang baik, serta wilayah yang berdekatan dengan sumber pembakaran.
Lokasi tersebut antara lain area pembakaran sampah, kawasan industri dengan paparan asap, terminal, maupun jalan raya dengan lalu lintas padat.



